Seminar Pendidikan Lingkungan Hidup Jawa Barat PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh danial   
Kamis, 17 Desember 2009 11:56

 

Pada tanggal 20 November 2009, telah diadakan seminar pembukaan untuk Kegiatan Paperless Generation. Kegiatan Seminar terselenggara atas kerjasama antara Climate Change Center (C3) dan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLHD) Jawa Barat. Seminar diadakan di Aula BPLHD Jawa Barat.

Seminar ini juga merupakan bagian Capacity Building dan Pengembangan Tools Pengajaran Guru-guru Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) Jawa Barat yang dilakukan C3. PLH sendiri merupakan Mata Pelajaran masih memerlukan perhatian yang besar.

Sebagian besar dari Guru-guru PLH yang C3 temui di lapangan, mengeluhkan masih kurangnya kemampuan dan bahan ajar PLH. Harapannya, dengan adanya Paperless Generation, Kemampuan dan Bahan Ajar Guru PLH semakin lebih baik lagi. Dilain pihak, siswa dan Guru dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dalam menunjang PLH di sekolah-sekolah.

Berikut rekaman kegiatan Seminar

SAMBUTAN

Ketua C3, Danial

C3 concern mengenai perubahan iklim. Kami berharap ada tindakan bersama dari semua pihak mengenai lingkungan hidup. Provinsi Jawa Barat memiliki potensi dan tantangan dalam mengembangkan lingkungan hidup sebagai green province. Pendidikan sebagai sokoguru diharapkan dapat menyokong perubahan serentak dan menghasilkan generasi muda yang lebih peduli kepada lingkungan hidup. BPLHD yang berkolaborasi dengan C3 mengharapkan kegiatan ini dapat menghasilkan sinergi bersama dalam rangka membentuk paperless generation.

Kabid pengendalian pencemaran lingkungan. Lusia (an. Kepala BPLHD Dr. Setiawan)

Saat ini pemanasan global semakin memprihatinkan. Hal ini dapat menimbulkan efek negative seperti banjir hingga tenggelamnya pulau, pola cuaca yang ekstrim dan sulit diprediksi . Oleh karena itu, perlu upaya semua pihak untuk memperlambat laju perubahan iklim yang sudah tidak dapat dihindari lagi. Paperless generation merupakan generasi yang berhemat dan mengurangi konsumsi kertas. Diharapkan hal ini dapat mengurangi laju perubahan iklim.

MATERI

Moderator : Masalah lingkungann hidup bukanlah sekedar isu. Tapi merupakan tanggung jawab generasi sekarang kepada generasi yang akan datang. Jawa barat merupakan pelopor dalam memajukan pendidikan lingkungan hidup.

Pemateri 1. BPLHD. Ibu Ande

Profil lingkungan hidup Jawa arat :

Visi:  Green province. Target 2010;  40% kawasan lindung

Kendala : jangan sampai lingkungan hidup menghambat ekonomi, namun jangan juga dikorbankan.

Fakta di lapangan : Jabar provinsi terpadat di Indonesia. Daya dukung lingkungan melemah, padahal  faktor lingkungan mempengaruhi 70% aspek kesehatan. Tiap wilayah di Jabar punya kondisi khas masing-masing. Misalnya daerah karawang, konversi daerah pertanian sangat tinggi. Cekungan bandung/daerah kota: pencemaran tinggi dan ancaman krisi air. 

Bumi saat ini sedang 'sakit' karena pencemaran dan habis dieksploitasi . Perilaku masyarakat sehari-hari sangat beresiko merusak lingkungan dan kesehatan, misalnya buang hajat dan sampah di sungai. Masyarakat cenderung egois dan malas, "yang penting bukan dirumah saya". Contoh kasus bencana : TPA Lewi Gajah.

Ada UU No 3 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Bahkan, ada pasal pidananya. Misalnya minimal hukuman satu tahun penjara dan denda hingga milyaran rupiah. UU No 18 Tahun 2008 tentang sampah. Misalnya buang sampah sembarangan dihukum 3 bulan penjara dan denda 50 juta rupiah. Permasalahan lain : TPA terbatas. Saran : ajak murid jalan2 lihat sungai dan TPA. UU sampah juga mengharuskan pemilahan sampah; organik, anorganik dan daur ulang. Ada program 'tabungan sampah'. Di luar negeri, Indonesia ber'prestasi' dalam pencemaran. Contoh kecil prilaku masyarakat; membuang filter rokok dan banyak barang lain yang butuh waktu lama untuk terurai.

Kearifan lokal membantu menjaga lingkungan hidup,misal pamali (larangan). Saat ini kearifan lokal memudar.

Sumber polusi : alam dan aktivitas manusia. Dampak pencemaran udara: dari lokal bisa ke global, karena dibawah atmosfir yang sama. Perubahan iklim ditekankan pada efek rumah kaca. penyebab : kenaikan jumlah gas rumah kaca (yang paling dihindari nitrogen oksida). Efek : peningkatan suhu bumi yang irreversible.Data dan fakta global sangat 'mengerikan', misal es mencair yang irreversibel sehingga volume air laut naik. Setiap detik penurunan kualitas lingkungan hidup tinggi, misal 1.629 meter kubik gletser di greenland mencair.

Penggunaan bahan bakar minyak bumi; gas paling minim pencemaran . Cadangan minyak indonesia makin menipis dan saat ini sedang giat mencari lahan baru. Indonesia peringkat emisi 19 di dunia. Prediksi pemanasan global : 2 derajat suhu bumi naik, 1-2,8 M manusia kekurangan air. pH hujan bandung: 4 artinya hujan asam.

Pemanasan global tidak mungkin dihentikan tapi minimal diperlambat lajunya agar manusia sempat beradaptasi. dampak pemanasan global : gunung es mencair, suhu meningkat, pola cuaca ekstrim. Permukaan laut meningkat, penyebaran nyamuk naik ke dataran tinggi, penyakit2 bermunculan. Pencairan gunung es sangat mengkhawatirkan. negara empat musim sangat merasakan perubahan iklim. Pulau jawa sangat rawan bencana.

Komitmen internasional : memperlambat laju dan mengurangi dampak kerusakan lingkungan. implementasi; teknologi ramah lingkungan, penghemaatan dan pengurangan konsumsi energi dan sumber daya, pengelolaan sampah, penanaman pohon untuk menyerap CO2,dll.

Pemateri 2. Dinas pendidikan Jawa Barat, Dr Dadang Rahman.

Pemprov jabar sangat peduli mengenai lingkungan hidup. Teknologi informasi juga dilibatkan, misal melalui email dan web. selain untuk efisiensi, juga untuk mengurangi kertas. Gerakan ini harus dimulai bersana. kuncinya pada perubahan perilaku.

Sebenarnya program peduli lingkungan hidup ini sudah dimulai, tapi sayangnya tidak menyentuh perubahan perilaku. misalnya buang sampah sembarangan. Sebagai pendidik, tidak hanya menyampaikan nilai peduli lingkungan hidup melalui omongan. tapi melalui contoh dan tindakan.

Layanan proses pembelajaran harus berpusat pada siswa, berorientasi komnpetensi, dan bermutu. Target pendidikan lingkungan hidup : perubahan perilaku.

Kurikulum hanyalah benda mati, yang penting adalah tindakan nyata. otonomi sekolah harus diberdayakan untuk mendukung program peduli lingkungan hidup. Langkah awal : analisis dan assesment/penilaian. agar prilaku berubah, harus tahu dulu kondisi awalnya.

Paperless generation harus dimulai dari tindakan nyata. Guru sendiri harus mempratekkan sendiri gerakan mengurangi penggunaan kertas. Siswa dapat didorong untuk saling memantau perubahan prilaku lingkungan hidup mereka. Laporannya tidak perlu menggunakan kertas.

Intinya, guru harus mengadaptasi kurikulum dan mengintregasikannya kedalam rencana pembelajaran dan tindakan nyata.

 

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 17 Desember 2009 12:38 )