| Take and Give with Our Nature II |
|
|
|
| Ditulis oleh danial |
| Selasa, 04 Agustus 2009 08:22 |
|
Langkah Bersama dalam Menyikapi Perubahan Iklim
Program 20 merupakan program pembinaan komunitas yang berkelanjutan. Program ini dirancang untuk membuat suatu gerakan bersama dalam menghadapi Perubahan Iklim, khususnya di Indonesia. Tujuan dari Program 20 adalah terbentuknya Komunitas yang mampu menyikapi Perubahan Iklim yang terjadi saat ini. Penyikapan yang diharapkan tidak hanya dilakukan oleh per individu, tetapi masuk pada ranah komunitas. Hal yang diharapkan adalah adanya langkah bersama dalam Penyikapan Perubahan Iklim yang terjadi. Program 20 juga sudah bekerjasama dengan pihak Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Jawa Barat (BPLHD Jabar) dan Dinas Pendidikan Jawa Barat. Diharapkan, dengan adanya kerjasama tersebut dapat memberikan dampak yang signifikan bagi perbaikan Jawa Barat. Baik dari segi Lingkungan Hidup maupun Peningkatan Kesadaran Pendidikan Lingkungan Hidup. Langkah Pertama dari rangkaian Program 20 adalah upgrading Pengetahuan dan Kemampuan Guru Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH). Dalam acara in, Guru-guru PLH diberikan wawasan tentang Lingkungan Hidup. Selain itu, diadakan juga acara berbagi pengalaman dengan guru PLH dari SMAN 13 Bandung, SMA binaan Climate Change Center (C3). Selain guru, siswa-siswa SMA juga diberikan Pengetahuan dan Pengalaman tentang Lingkungan Hidup. Siswa SMA diarahkan untuk membentuk komunitas dan bekerjasama dalam menyikapi Permasalahan Lingkungan di SMA dan sekitar mereka. Harapannya, tunas-tunas bangsa ini dapat menjadi Penggerak bagi Perbaikan Lingkungan, khususnya di Indonesia. Rangkaian pertama dari Program 20 dilaksanakan pada tanggal 23 juli 2009. Acara dibuka dengan sambutan 1. Dari Bapak Danial sebagai Ketua Climate Change Center (C3), yaitu berkaitan dengan maksud dan tujuan dari pelaksanaan program 20 ini. Harapan dan gambaran kerja sama antar stake holder yaitu sekolah, C3, pemerintah, masyarakat dan media massa dalam menyikapi perubahan iklim dewasa kini. 2. Dari Bapak Setiawan W. sebagai Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat (BPLHD) Jabar, yaitu menyambut baik kegiatan sekolah yang selaras dengan pengajaran dan pendidikan lingkungan hidup. Memotivasi sekolah agar menjadi agen pembinaan generasi masa depan yang peduli dan ramah pada lingkungan. Kelestarian lingkungan hidup di Jawa Barat adalah tanggung jawab kita bersama dan bernilai ibadah yang sangat mulia. Materi yang disampaikan adalah :1. Rangkuman materi Bapak Abur Mustikawanto dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat sebagai berikut: Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) yang di Indonesia sudah dirintis sejak 2,5 dasawarsa yang lalu merupakan bentuk respon sektor pendidikan terhadap deklarasi PBB ini sehingga semua insan pembangunan sebagai lulusan sekolah memiliki etika lingkungan. Implementasi program PKLH di sekolah (SD, SLTP, SMA dan SMK) secara implisit sudah diperkenalkan melalui kurikulum 1984. Setelah sekitar 25 tahun diperkenalkan di sekolah, hasil yang dicapai belum menggembirakan. Realita sehari-hari menunjukkan hampir semua lulusan sekolah belum menampilkan kinerja ramah lingkungan untuk sebuah misi selamatkan bumi. Untuk saat ini, pelaksanaan PKLH di sekolah akan bergerak pada tataran praktis dan implementasi. Dengan menjadikan sekolah sebagai wahana bebas dalam cipta, karya dan karsa guna mendorong sensitifitas elemen sekolah dalam kesadaran lingkungan hidup. Dengan demikian pembelajaran PKLH yang berdimensi kognitif, afektif, dan psikomotor ini perlu dilakukan dengan mengemas kegiatan pembelajarannya dengan cara pemberian keteladanan, pembiasaan, dan penciptaan lingkungan yang kondusif. Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) adalah proses mereorganisasi nilai dan memperjelas konsep-konsep untuk membina keterampilan dan sikap yang diperlukan untuk memahami dan menghargai antarhubungan manusia, kebudayaan, dan lingkungan fisiknya. Diharapkan dari PLH ini, keberlangsungan nilai, moral dan budaya yang arif dan bijaksana terhadap lingkungan hidup dapat terus dijaga dan dikembangkan. Dengan demikian, keberlangsungan hidup manusia dan alam semesta ini dapat berjalan harmonis dan seimbang. 2. Rangkuman materi Bapak Ratno dari Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah Jawa Barat (BPLHD) Jabar sebagai berikut: Pendidikan Lingkungan Hidup menjadi prioritas dalam kurikulum pendidikan nasional di Indonesia, dengan visi yaitu terwujudnya manusia Indonesia yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan kesadaran untuk berperan aktif dalam melestarikan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup (Konvensi PLH: 19 Februari 2004, DKI Jakarta). Implementasi PLH di Jabar adalah dengan terbentuknya Sekolah Berbudaya Lingkungan (SBL) dengan pengertian adalah pengelolaan pendidikan formal pada jenjang pendidikan dasar & menengah, yg dilandasi oleh kesadaran & pemahaman atas kondisi lingkungan sekolah & lingkungan sekitar saat ini sabagai satu unit lingkungan terkecil, dalam rangka mengembangkan cipta, rasa, karsa, & karya untuk memelihara, memperbaiki & meningkatkan kualitas lingkungan hidup saat ini dan yang akan datang. Hal ini menuju cita-cita besar yaitu “Terbentuknya generasi yang peduli lingkungan dan mampu mengimplementasikan kepeduliannya dalam kehidupan sehari-hari”. Implementasi PLH ini selaras dengan Program Kementrian Lingkungan Hidup dengan Program Sekolah Adiwiyata tahun 2006. Program Adiwiyata ini merupakan program perlombaan sekolah di Indonesia berbasiskan lingkungan hidup. Diharapkan dari program ini, pemerintah terkait dapat menjadi fasilitator untuk sekolah-sekolah dalam mengembangkan konsep pengelolaan sekolahnya yang berwawasan lingkungan. Dengan demikian, terdapat sinergisasi antara muatan lokal PLH di sekolah dengan program adiwiyata dan atau sekolah berbudaya lingkungan. 3. Rangkuman materi dari Bapak Sobirin (Tokoh DPKLTS; Praktisi Zero Waste) sebagai berikut: Peran kearifan tradisional dalam menghadapi perubahan iklim, khususnya dalam sumber daya air. kearifan tradisional adalah sesuatu yang dianggapnya sudah kuno, tidak cocok lagi dengan situasi dan kondisi sekarang, dan pantas untuk ditinggalkan karena telah mengarah kepada mitos dan primbon. Untuk menghadapi dampak perubahan iklim diperlukan pembenahan dan modifikasi terhadap kearifan tradisional dengan menggabungkan unsur-unsur pengetahuan modern, pembuktian ilmiah, dan ditampilkan dengan format baru. Gabungan antara pengetahuan tradisional dengan pengetahuan ilmiah dapat menjelaskan perubahan perilaku tanaman dan binatang pada tiap musim tertentu sebagai indikator terjadinya perubahan iklim. Proses sosialisasi kepada masyarakat tentang kearifan tradisional banyak mengalami kegagalan karena metode yang dilakukan sekedar ‘hit and run’ dan hanya menggunakan ‘single model’. Di sinilah peranan Pendidikan Lingkungan Hidup dewasa kini yang dapat mengajarkan generasi muda tentang arti pentingnya kebudayaan hidup yang seimbang dan harmonis dengan lingkungan sekitar. Tingkat kemajuan manajemen hidup seperti teknologi maju dan lainnya harus tetap menjaga kesejahteraan dan kelangsungan hidup manusia secara kontinu. Hal ini lah menjadi tanggung jawab manusia dalam mengelola dan memelihara alam semesta dalam kemanfaatannnya. Sehingga dampak kerusakan lingkungan dapat diminimalisir dan atau dicegah. 4. Rangkuman materi dari Succes Story dari Ibu Wiwik Dwi P. sebagai Guru PLH SMA N 13 Bandung sebagai berikut : Ibu Wiwik berbagi suka dan duka dalam mengembangkan pengajaran pendidikan lingkungan hidup dengan berdasar pada kurikulum MGMP PLH Kota Bandung. Perjuangan Ibu Wiwik dalam menumbuhkan kecintaan menanam dan merawat tanaman adalah dengan membudidayakan kaktus. Hal ini cukup berhasil dan membuat anak-anak senang mengikuti kelas PLH. Tantangan Guru PLH adalah mengubah paradigma siswa bahwa mengajar PLH tidak hanya dengan bersih-bersih kelas dan atau pengelolaan sampah. Oleh karena itu, PLH dapat disinergiskan dengan kegiatan ekstrakurikuler siswa seperti yang dilakukan di SMA 13 yaitu terdapat komunitas pencinta lingkungan hidup yang dinamakan ’Environment Lovers Community’ (ELOC 13) yang dapat menghidupkan budaya sekolah berwawasan lingkungan hidup. Hal ini tentu saja cukup menguras tenaga, waktu dan pikiran. Namun, saat ini hasilnya adalah pihak sekolah telah menjadikan visi lingkungan hidup sebagai prioritas dalam manajemen sekolah. 5. Rangkuman materi dari Succes Story dari Fahmi Dinni sebagai Siswi SMA N 13 Bandung dan Ketua Ekskul Pencinta Lingkungan (ELOC 13) sebagai berikut : Fahmi bercerita tentang penyikapan perubahan iklim di sekolah dengan melibatkan siswa, guru, dan manajemen sekolah lainnya. Tindakan yang dilakukan oleh komunitas pecinta lingkungan hidup ini (ELOC 13) adalah seminar tanggap global warming dengan mengajak C3 sebagai pembicara. Kemudian kampanye ’little step for wide world’: TFT Pengelolaan Sampah (oleh YPBB), kampanye kurangi kantong plastik pada kantin sekolah, perlombaan kreasi tong sampah, pemilahan sampah kering (kertas) (oleh Greeneration Indonesia), Pelatihan herbal (oleh Ibu Uka), Pesta rakyat dengan mengadakan cafe sehat sebagai puncak kegiatan. Selain itu, Fahmi juga berbagi tentang komunitas ’ririungan lingkungan’ sebagai wadah alumni peserta TFT ”Take and Give With Our Nature” Tahun 2008 kemarin. Dari cerita ini, peserta dapat termotivasi untuk bergerak secara mandiri dalam organisasi ekstra dan atau intra sekolah yang dapat bersama-sama bertindak secara nyata di sekolahnya masing-masing. |
| Terakhir Diperbaharui ( Rabu, 12 Agustus 2009 12:11 ) |