| Peran Strategis Mahasiswa Indonesia Menyikapi Perubahan Iklim |
|
|
|
| Ditulis oleh danial |
| Rabu, 18 Februari 2009 13:47 |
|
Perubahan Iklim merupakan global saat ini. Indonesia pun tidak terlepas dari pengaruh perubahan iklim tersebut. Perubahan Iklim disebabkan dan dipengaruhi oleh banyak hal. Diantaranya adalah Gas Rumah Kaca. Jenis apa saja yang di golongkan sebagai Gas Rumah Kaca (GRK). Ada 6 jenis gas rumah kaca adalah sebagai berikut: Karbondioksida (CO2) yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil ( minyak bumi, batu bara dan gas alam); Metana (CH4) berasal dari areal persawahan, pelapukan kayu, timbunan sampah, proses industri dan ekploitasi bahan bakar fosil; Nitrous Oksida (N2O) yang berasal dari kegiatan petani / pemupukan, transportasi dan proses industri; Hidroflourakarbon (HFCs)berasal dari sistem pendingin, aerosol, foam, pelarut dan pemadam kebakaran; Perflourokarbon (PFCs) berasal dari proses industri; Sulfurheksaflourida (SF6) berasal dari proses industri. Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca secara segnifikan, sehingga menyebabkan akumulasi panas di atmosfer yang mempengarui sistem iklim global, yang menyebabkan naiknya temperatur rata-rata bumi. Dikenal sebagai pemanasan global. Pemanasan global pada akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan iklim, atau tepatnya perubahan beberapa variabel iklim suhu udara dan curah hujan. Perubahan Iklim ini telah mengakibatkan berbagai dampak, diantaranya: Peningkatan Permukaan Air Laut, Krisis Pangan, Krisis Air Bersih, Meluasnya Berbagai Penyakit, dan lain-lain. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meyikapi Perubahan Iklim. Salahsatu diantaranya adalah Adaptasi Perubahan Iklim. Adaptasi Perubahan Iklim adalah upaya mempersiapkan diri dan lingkungan sekitar terhadap perubahan akibat perubahan iklim, baik yang telah terjadi maupun mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi.Dalam adaptasi terhadap perubahan iklim, mahasiswa merupakan salahsatu komponen masyarakat yang potensial. Mahasiswa Indonesia harus banyak terlibat dan dilibatkan dalam penyikapan terhadap perubahan iklim. Titik pentingnya adalah mahasiswa yang mampu untuk menjadi motor dalam penyikapan terhadap perubahan iklim dengan segala potensi dan kemampuan yang mereka miliki. Climate Change Center, sebagai lembaga yang konsen terhadap Perubahan Iklim, memandang mahasiswa sebagai komponen penting dari bangsa dan negara Indonesia. Dengan melihat potensi yang mahasiswa punyai. Climate Change Center mencoba bekerjasama dengan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). Climate Change Center dan Ganesha Hijau (mahasiswa ITB) meluncurkan kegiatan Garbage Fun Day. Yaitu sebuah kegiatan edukasi lingkungan dalam wujud talkshow lingkungan yang berbobot dengan topik yang akan membuka wawasan isu-isu lingkungan saat ini dan bagaimana sikap mahasiswa ITB yang tepat dalam menyikapinya. Tujuan kegiatan “Garbage Fun Day” adalah membuka wawasan lingkungan dan pemikiran mahasiswa ITB terhadap peran strategis mahasiswa Indonesia dalam menyikapi perubahan iklim. Esensi kegiatan edukasi lingkungan “Garbage Fun Day” diharapkan tercapai maksimal dengan konsep menyenangkan, menarik dan santai. Harapan dari kegiatan “Garbage Fun Day” adalah semakin terbentuknya komunitas yang mulai berfikir kritis dalam menyikapi isu-isu lingkungan yang aktual. Kegiatan Garbage Fun Day berupa Talk show yang diadakan pada tanggal 14 Februari 2009 di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat. Talk show dimulai dengan penjelasan dari Bu Retno Gumilang Dewi akan pentingnya isu global warming untuk kita perdulikan karena dampaknya besar bagi kelangsungan hidup manusia, seperti kenaikan permukaan air laut yang akan menenggelamkan pulau-pulau kecil. Bu Retno juga mengingatkan pentingnya menghemat penggunaan listrik karena hal itu merupakan bentuk partisipasi dalam upaya pencegahan global warming.Bu Retno secara umum memberikan paparan umum yang luas mengenai isu-isu lingkungan secara global. M. Bijaksana Junerosano sebagai pembicara dalam talk show ini membagi pengalamannya sebagai pendiri U-Green ITB dan juga Greeneration Indonesia. Ia juga merupakan duta lingkungan Indonesia dalam BYEE 2005 lalu. Ia mengkritik pihak-pihak yang berwajib dalam masalah lingkungan, khususnya sampah, yang hanya mengeluarkan aturan tanpa ada tindakan konkret. Contohnya saja di Bandung. Sebenarnya sudah ada undang-undang yang mengatur tentang denda bagi orang yang membuang sampah sembarangan, tetapi sampai sekarang tidak ada pelaksanaan dari undang-undang tersebut. Selain itu, ia pun meminta mahasiswa untuk sadar lingkungan, khususnya mahasiswa ITB. Selama ini, mahasiswa ITB belum dianggap sadar lingkungan. Hal ini terbukti dari sikap mahasiswa yang tidak memilah sampah antara organik dan anorganik ketika membuang sampah padahal tempatnya sudah tersedia. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa menjadi aktivis lingkungan bukan berarti tidak dapat menghasilkan keuntungan. Terbukti dengan kreativitas dan kemauan, ia dapat mengkomersilkan produk unik mendukung antiplastic bag yang bernama “Bagoes” dengan konsep ergonomis sehingga dapat meraup keuntungan. Kak Sano memberikan teladan yang banyak bagi peserta bagaimana peran mahasiswa sebagai pemuda dalam menghadapi isu-isu lingkungan dan memberi semangat kita sebagai pemuda untuk terus maju memperjuangkan lingkungan kita menjadi lebih baik lagi di suatu saat nanti. Setelah talk show acara dilanjutkan dengan kuis untuk memancing minat peserta dalam berpendapat dan berpikir kreatif mengenai masalah lingkungan. Acara pun dilanjutkan dengan materi dari Kak Rizal (dari Nymphaea ITB) yang membahas tentang pembuatan pupuk cair serta pereduksian sampah. Ia pun memperlihatkan sebuah konsep taman bermain yang juga berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah yang dapat mengatasi masalah sampah di perkotaan, khususnya Bandung. Memasusuki acara selanjutnya yaitu permainan dan diskusi lingkar lingkungan, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka dimobilisasi keluar ruangan dengan tertib. Permainan yang dilakukan berupa memilah-milah sampah berdasarkan produk yang bisa dihasilkan kembali dari sampah itu. Esensinya, peserta mengerti tentang pemilahan sampah dan mengetahui hasil dari daur ulang sampah itu. Tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan kesadaran peserta untuk turut mendukung program daur ulang yang ada di lingkungan masing-masing. Setelah permainan selesai, dilaksanakan diskusi. Dalam diskusi, satu kelompok terdiri atas peserta yang berjumlah 8-10 orang dan dua fasilitator. Tema yang dibawakan pada diskusi berupa masalah-masalah lingkungan, baik global maupun lokal. Selain itu, melalui diskusi ini peserta diajak untuk mengambil sikap yang sesuai menghadapi problema lingkungan yang ada. Diskusi masing-masing kelompok berjalan lancar dan antusiasme peserta cukup tinggi.
|
| Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 14 Maret 2009 06:53 ) |