| Seminar Nasional : Menghadapi Perubahan Iklim Global dengan Penerapan CDM di Jawa Barat |
|
|
|
| Ditulis oleh danial |
| Kamis, 29 Januari 2009 09:43 |
|
Report Summary Laporan ini dibuat berdasarkan kegiatan yang diselenggarakan oleh Climate Change Center bekerja sama dengan Keluarga Mahasiswa ITB serta didukung oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat, Chevron dan detikbandung. Latar Belakang Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, dsb) yang berprinsip "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan" (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987). Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas daripada itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) atau Earth Summit 1992 dihadiri oleh para pembuat kebijakan, diplomat, ilmuwan, kalangan media massa dan perwakilan ornop dari 179 negara sebagai bagian dari upaya besar-besaran untuk memperbaiki dampak dari kegiatan sosial ekonomi manusia terhadap lingkungan dan sebaliknya. Tujuan utama Konvensi adalah untuk menstabilkan emisi gas rumah kaca (GRK) ke atmosfer pada tingkat tertentu sehingga tidak membahayakan sistem iklim bumi. Secara umum Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism, CDM) merupakan mekanisme penurunan emisi yang berbasis pasar. Kegiatan ini ditujukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang mekanisme pembangunan bersih sebagai salah satu solusi pengurangan emisi. Clean Development Mechanism atau CDM merupakan sebuah mekanisme yang memungkinkan adanya kerjasama antar bangsa dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Kerja sama tersebut diantaranya membuat negara maju dapat mengalokasikan dananya ke negara berkembang untuk mengembangkan proyek pengurangan emisi. Mekanisme tersebut di Indonesia turut didukung oleh hadirnya Dewan Nasional Perubahan Iklim. Penyelenggaraan seminar ini dilakukan dengan mengundang pemegang kepentingan (stake holders) di Jawa Barat agar dapat berbagi pengalaman serta rancangan kebijakan di masa mendatang dalam menjawab tantangan CDM serta perubahan iklim. Pihak yang diundang dalam acara tersebut adalah Pemerintah Daerah Jawa Barat, Perusahaan energi, akademisi serta mahasiswa. Pandangan-pandangan yang dihadirkan diharapkan dapat mewakili kondisi yang ada di Jawa Barat saat ini, khususnya yang terkait dengan CDM. Penjelasan Acara Acara teridiri dari beberapa bagian. Bagian pertama berupa pemberian sambutan pembuka (keynote speach) yang diberikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan Lc serta Perwakilan Dewan Nasional Perubahan Iklim, Dr. Agus Wahyudi. Bagian Kedua merupakan sesi pemaparan yang dilakukan oleh nara sumber yang mewakili para stakeholders, yaitu Kepala BAPPEDA Jawa Barat, Prof. Dr. Deny Juanda; Kepala BPLHD Jawa Barat,Dr. Setiawan Wangsaatmadja ; Perwakilan Chevron, Ir DwitaS. Prihantono; Akademisi, Dr. Armi Susandi; Perwakilan Mahasiswa, Shana Fatina. Bagian ketiga merupakan diskusi antara nara sumber dan peserta seminar yang dipandu oleh moderator. Tempat Acara : Aula Timur ITB Hari/Tanggal : Senin/19 Januari 2009J adwal Acara : 08.00 – 08.30 : Sambutan oleh Rektor ITB, Prof. Dr. Djoko Santoso 08.30 – 09.00 : Keynote Speach dari Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, Lc. 09.00 – 09.30 : Keynote Speach dari Dewan Nasional Perubahan Iklim, Dr. Agus Wahyudi 09.30 – 12.00 : Sesi Pemaparan oleh Narasumber. Kepala BAPPEDA Jawa Barat, Prof. Dr. Deny Juanda; Kepala BPLHD Jawa Barat, Dr. Setiawan Wangsaatmaja; Chevron Geothermal Indonesia, Ir. Dwita Prihantono; Akademisi ITB, Dr. Armi Susandi; Mahasiswa ITB, Shana Fatina. 12.00 – 13.00 : Sesi Diskusi dengan Peserta seminar. 13.00 – selesai : Launching Ganesha Hijau Keynote Speaker 1 : Bpk. Ahmad Heryawan, Lc. (Gubernur Jawa Barat ) Peran Provinsi Jawa Barat terhadap Perubahan Iklim dan Program Clean Development Mechanism(CDM) Pembangunan keberlanjutan adalah pembangunan yang memperhatikan keseimbangan kehidupan. Persoalan yang terjadi saat ini adalah akibat ketidakseimbangan kehidupan manusia yang tidak memperhatikan keselamatan lingkungan disekitarnya. Manusia pada umumnya hanya mencari keuntungan semata. Air dan udara merupakan kebutuhan pokok bagi manusia menjadi tidak diperhatikan kelestariannya. Air merupakan bagian yang sangat penting. Pada saat musim penghujan sering terjadi banjir dan saat kemarau tidak ada air. Masalah utamanya adalah kerusakan hutan. Ada pepatah yang mengatakan, tidak ada hujan tidak ada air. Pada musim kemarau terdapat 17 miliar meter kubik, namun akar pohon hanya dapat menyerap 8 miliar meter kubik. Persoalan clean water dan air adalah urusan manusia, keduanya dirusak oleh manusia. Pembangunan ramah lingkungan hanya akan terjadi bila manusia-manusianya ramah lingkungan. Udara diperkotaan dan dipegunungan sudah mulai tercemar. manusia harus ramah lingkungan dan memperhatikan masa depan. Masa depan kita harus diselamatkan. Protokol kyoto (1997), merupakan awal dari pembangunan yang berkelanjutan. CDM merupakan salah satunya solusi dibawah kyoto protokol dalam rangka pengurangan emisi gas rumah kaca. Lahan hulu tidak seluruhnya milik pemerintah. dibutuhkan win-win solution untuk menghijaukan lahan hulu. Dibutuhkan win-win solution untuk wilayah hutan jawa barat agar masyarakat tidak dirugikan secara ekonomi. CDM bertujuan untuk menurunkan emisi GHGs dari negara maju ke negara berkembang. Dampak perubahan iklim, antara lain pemanasan global. di 2100 diperkirakan suhu udara naik 1,4-5,8 derajat celcius. di daerah bandung sudah mulai terasa perubahan suhu udara. dampak terhadap sumber daya air, banyak air yang menguap dan kenaikan muka air laut. ancaman terhadap ketahan pangan. bila tidak terjadi perubahan iklim dapat terjadi swasembada pangan yang lebih baik lagi dari sekarang. Beberapa sektor yang diproyeksikan dapat berpartisipasi program CDM di Jawa barat,yaitu dibidang industri , transportasi, dan energi. CDM dapat dihitung dan ditagih untuk mengganti. Kabupaten Bandung merupakan sumber geothermal, namun masih macet. Diusahakan pengembangan geothermal menjadi lebih baik dengan CDM. Aspek yang lain adalah pertanian. Setelah panen, jerami digunakan sebagai kompos untuk padi dimasa mendatang. Perlu dikembangkan untuk membantu CDM. Aspek berikutnya adalah Penanganan sampah, tata guna lahan, kehutanan. Pada tata guna lahan, akan diusahakan perpu-nya untuk membantu CDM, seperti pembuatan rumah hutan. untuk hutan apabila hanya penanaman tanpa pemeliharan sama saja tidak akan bermanfaat. Beberapa hal yang penting yang lainnya adalah, indonesia adalah negara maritim dan perlu koordinasi. Masalahnya adalah hilangnya koordinasi antar sektor. Peran indonesia dalam mendukung perubanan iklim dibuktikan dengan UNFCCC. untuk itu Pemerintah Jawa barat telah memprogramkan Greenprovince dengan target 45% kawasan lindung dengan lindung hutan dan non-hutan. untuk kawasan lindung diarahkan untuk pemulihan kondisi kawasan lindung. diharapkan Jawa Barat di tahun 2025 akan menjadi kawasan yang hijau. Keynote Speaker 2: Dr. Agus Wahyudi (Ketua Bid. Imitigasi Perubahan Iklim) Perubahan Iklim dan Dampaknya Terhadap Indonesia Sejak revolusi industri dimulai, sudah mulai ada gangguan terhadap lingkungan. Kyoto protokol mengacu gas rumah kaca dan bahan kimia yang melubangi rumah kaca. Sudah ada laporan yang keempat, yaitu di tahun 2005 ketika terjadi kenaikan CO2 280 menjadi 1750. Gas metan dan N2O juga mengalami kenaikan.Banyak dampak terhadap air, ekosistem, mkanan, pantai, dan kesehatan. Dalam laporanm tersebut juga diuraikan adanya perbedaan konsentrasi ultraviolet di daerah Indonesia. Lubang ozon di kutub selatan luasnya 7 x manhatan. Konsentrasi ultraviolet di timur lebih tinggi bila dibandingkan di bagian barat. Masih dapat dilakukan untuk penelitian dampak konsentrasi ultra violet. Selain itu, terjadi peningkatan air laut yang tidak sama dan temperatur. peningkatan air laut dalam 100 tahun yang akan datang mengakibatkan sebagian besar pulau tenggelam. masih perlu dilakukan penelitian seberapa banyak pulau yang tenggelam. Salju dan es sudah mulai menurun konsentrasinya. peningkatan 1,8 mm -3,1 mm pertahun permukaan air laut. adanya ekspansi panas mengakibatkan beberapa gletser mencair. pada tahun mendatang akan naik kurang lebih 18-50 cm. Apabila konsetrasi CO2 tetap dibiarkan sekitar 280-500 ppm, pada tahun 2015 akan terjadi peningkatakan suhu. semakin rendah sekutu untuk menurunkan konsentrasi di udara akan semakin keras usaha yang dikeluarkan untuk mengurangi CO2.Hal ini akan mengakibatkan pemanasan global, perubahan garis pantai. 20-30 spesies akan punah di daerah laut. Pada tahun 2020 sekitar 75-200 juta orang di Afrika akan mendapat tekanan karena air atau kekurangan air. Hal serupa juga terjadi di Asia pada 2050 yang akan berkurang air murni. Negara-negara pulau kecil akan mengalami erosi dan kerusakan infrastruktur. Negara pulau kecil (Sea small island country) banyak bersuara di konferensi. Dampak terhadap indonesia adalah stabilitas politik. akan terjadi peningkatan resiko usaha dan aktivitas ekonomi. lnfrastrukutur akan terganggu pula. Biaya mitigasi akan meningkat seiring dengan ketajaman target mitigasi. pada tahun 2050 rata-rata biaya untuk mencapai stabilitas antara 710-445 ppm CO2. rata-rata pertumbuhan GDP global akan berkurang. Visi kehidupan sosial masa depan, terdapat 2 skenario. skenario a, lebih berorientasi di bidang industri. skenario B lebih berorientasi di lingkungan hidup. Pada departemen perindustrian, bila tidak dilakukan suatu upaya untuk pencegahan, terajdi peningkatan emisi. dengan perpres dan peraturan dapat dilakukan semacam pengurangan emisi. Pengubahan dari bbm fosil menjadi nonfosil dapat mengurangi emisi sekitar 17%. Industri semen sedang diusahakan untuk mengurangi emisi dengan target 12,42% pada 2015. Semen padang sedang meggunakan ..recovery untuk mengurangi emisi panas yang dilepaskan diudara. Indonesia masih kurang/kecil dalam memanfaatkan CDM. Pasar hingga 2012 3,2-3,5 miliar ton kebutuhan untuk penurunan emisi. Indonesia baru 1,5% CER dari pangsa pasar dunia. Diharapkan ditahun 2030 banyak clean energy yang diterapkan di Indonesia. dibeberapa negara penghasil minyak pada penerangan jalan sudah menggunakan solar cell. Solusi, kebijakan dan instrument insentif yang luas dan bervariasi untuk tindakan mitigasi. aktivitas pengeluaran emisi diperlukan biaya. diusulkan instrumen ramah lingkungan dikurangi biayanya atau pengurangan ppn. diperluakan suatu hal yang sederhana namun sangat bermanfaat. harga karbon yang menarik bagi potensi mitigasi disemua sektor. Sesi Pemaparan 1. Deny Juanda Puradimaja (Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Provinsi Jawa Barat) Rencana Aksi Provinsi Jawa Barat dalam Merespon Perubahan Iklim dan Penerapan CDM Perubahan iklim menjadi perhatian bersama dimulai dari perencanaan. Banyak kasus yang perencanaan awalnya sudah tidak matang. Perubahan iklim menjadi suatu parameter pembangunan di jawa barat. Banjir yang berasal dari sungai merupakan salah satu akibat dari pemanansan global. Ada empat sungai dijawa barat, ciliwung, citarum, citadui, dan cimanuk. Banjir di Bandung sudah terjadi berkali-kali, dan hal ini bukan hal yang tidak terduga. Iklim di Jawa Barat yang perlu diperhatikan adalah perubahan iklim mikro. Saat ini masih belum diketahui asal uap air yang menuju ke Bandung. Masalah banjir di perkotaan adalah iklim mikro. CDM bukanlah satu-satunya solusi, namun ini adalah yang paling terkemuka dan dianggap win-win solution. ada 41 produsen CO2. negara maju akan menanamkan modal dinegara berkembangan dengan imbalan Certified Emission Reduction (CER). Sebelum dilakukan pembangunan dilakukan visibility studies oleh negara maju CDM. CDM project dipersembahkan untuk negara-negara non-anex 1. Sampah merupakan salah satu penyumbang dari gas metan. beberapa contoh CDM dibidang kehutanan, adanya gerakan penghijauan. program unggulan di Jawa Barat adalah green province. Arsitek bersama provinsi jawa barat akan memperkenalkan produk baru yaitu greenarchitech design. Gerhan (gerakan rehabilitasi lahan) sumber dana dari APBN. program energi terbarukan dari jawa barat. peneingkatan penyediaan sistem pengelolaan lingkungan terpadu dengan penereapan 3 R. Penutupan lahan di jawa Barat semakin kecil. membangun jawa barat di bagian selatan diperlukan usaha lebih keras lagi. 2001-2005 kwasan hutan berkurang 3000 hektar. sebagian besar kawasan utara jawa barat merupakan kawasan banjir yang parah. di jawa barat memiliki semakin banyak musibah yang berulang hampir setiap tahun di beberapa daerah Jawa Barat. 2. Bpk. Dr. Setiawan Wangsaatmadja (Kepala BPLHD Jawa Barat) Strategi sejalan dengan kebijakan nasional-provinsi-kabupaten/ kota dilakukan dua upaya untuk melakukan strategi yang sudah direncanakan, yaitu upaya mitigasi dan upaya adaptasi. upaya mitigasi antara lain, konservasi hutan dan rehabilitasi lahan, mengurangi konsumsi energi. upaya adaptasi antara lain menyusun regualasi dan mengembangkan teknologi berupadaptasi dengan perubhan iklim. perubahan sosial dan budaya termasuk kondisi tata guna lahan. Target yang ingin dicapai adalah kawasan lindung 45% dan saat ini adalah 27%. Untuk membuat ketahanan pangan semakin baik adalah membentuk 45 % kawasan lindung. Bila menerapkan 45% dapat menimbulkan keuntungan hingga 80 triliun rupiah. Permasalahan saat ini terdapat sedikit dilema yaitu batas administrasi kabuten dan kota dan ini merupakan tantangan tersendiri dalam pengelolaan. Contoh kasus adalah mereduksi GRK untuk metan dari TPA sampah. Saat ini sudah dilakukan pengolahan TPA di Sumur Batu Bekasi. Penysusunan FS, PDD, Validasi, dan registrasi didanai oleh Bank Dunia. diperkirakan bulan Juli argometer sudah diberjalankan. Skema ini akan menggantikan Open dumping di TPA yang merupakan sistem yang kurang baik. 3. Army Susandi (Ketua Program Studi Meteorologi ITB/ Dewan Pembina C3) Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang memenuhi kebutuhan generasi terkini, tanpa mengabaikan kebutuhan generasi berikutnya. Komponen pembangunan berkelanjutan: a. Komponen sosial: proyek CDM tidak menimbulkan konflik sosial di masyarakat b. Komponen ekonomi: proyek CDM memberikan kontribusi yang positif bagi perkembangan ekonomi lokal dan nasional c. Komponen lingkungan: CDM tidak hanya memberi kontribusi terhadap pengurangan emisi, tetapi juga terhadap lingkungan secara keseluruhan, seperti air, udara, dan tanah, termasuk proteksi terhadap biodiversitas d. Teknologi: CDM juga harus dapat memberi kontribusi terhadap perkembangan teknologi di host country Hambatan potensial penerapan CDM di Indonesia antara lain : institusional, ekonomi, teknik, dan kebijakan. Prioritas potensial hambatan CDM hutan : a. Institusional meliputi : kepemilikan lahan, peraturan, komitmen pemerintah daerah, b. Perekonomian meliputi : Kredit lokal, kompetisi dengan lahan lain, c. Teknik meliputi : ketersediaan tenaga kerja, akses ke lokasi CDM hutan Pemanfaatan dan pengembangan pembangkit biomassa adalah jenis proyek yang paling banyak (5 sudah terdaftar di EB, 11 sudah mendapatkan approval DNA), urutan berikutnya adalah pengurangan pelepasan gas methan ke udara, baik berupa penanganan limbah sampah maupun buangan industri. Pemanfaatan gas flaring di Tambun adalah proyek CDM yang telah menghasilkan CER terbesar sampai sekarang. Gas flaring ini sebenarnya banyak sekali terdapat di Indonesia, tapi karena kendala peraturan dari BP Migas, dimana KPS hanya berhak mendapatkan pendapatan dari minyak, gas, dan kondensat, KPS menjadi sangat enggan untuk menjadikannya proyek CDM. Proyek pengurangan emisi dengan melalui pengembangan panas bumi baru 2 proyek yang terdaftar di eksekutif board (EB), 4 proyek lainnya baru dalam tahapan lolos verifikasi dari DNA. PLTP ini merupakan salah satu proyek yang sangat besar pengurangan GRK nya. Dalam hal ini, dibutuhkan sinkronisasi antar sektor sehingga lebih banyak proyek-proyek pengurangan emisi di PLTP yang dapat masuk dalam skema CDM. Berdasarkan data ESDM, apabila seluruh kegiatan pengembangan PLTP masuk dalam CDM, akan didapatkan 34.862.724 ton CER sampai dengan tahun 2018 Potensi pada sektor kehutanan sangat besar, nomor 2 di dunia setelah Brasilia. Walau begitu, karena mekanisme masih belum ditentukan, sektor kehutanan masih belum bisa masuk dalam skema CDM. Untuk sektor ini sementara baru bisa masuk ke pasar voluntary. Baru ada 2 proyek efisiensi energi yang sudah mendapatkan approval dari DNA. Mengingat Indonesia adalah salah satu negara yang boros dalam pemanfaatan energi, potensi untuk pengembangan proyek CDM berbasis efisiensi energi ini sangat besar. Untuk itu, pendekatan sektor maupun capacity building bagi pasar sangat perlu untuk dilakukan 4. Dwita S. Prihantono (Perwakilan dari Chevron) Chevron, merupakan global energy company di 180 negara.bergerak di bidang eksplorasi minyak dan gas. berdiri sejak 1979. Chevron merupakan operator di Indonesia dengan kerjasama bersifat KOB (kontrak operasi bersama). Dalam skema kerjanya, Chevron mengedepankan kesehatan dan lingkungan. setiap bulan dilakukan monitoring dan dilaporkan. setelah dilakukan monitoring dilakukan program effesiensi. Chevron merupakan the largest geothermal energy producer. Team CDM dibentuk 2002 oleh chevron. dimulai dengan design document. Kunci CDM adalah investasi dari project sendiri. yang dijual adalah potensi document PDD berisi baseline scenario. dilihat project emmisions yang berhubungan dengan perkembangan yang berkelanjutan serta harus sesuai dengan AMDAL yang ada. Setelah dilaksanakan perlu divalidasi kembali. Chevron telah terlibat dalam dialog dengan pemerintah Indonesia mengenai Protokol Kyoto semenjak tahun 2000. Semenjak itu, Chevron telah beberapa kali terlibat dalam pembangunan inisiatif CPDED, pertemuan konsultatif, serta memberikan dukungan terhadap program pembangunan berkelanjutan yang diselenggarakan pemerintah Indonesia. Proyek Darajat Unit III yang dikelola oleh Chevron telah terdaftar sebagai program yang diakui oleh CDM executive board UNFCC. Proyek tersebut diestimasi akan mengurangi emisi CO2 sebesar 650.000 ton/tahun. 5. Shana Fatina Mahasiswa, khususnya mahasiswa ITB telah melakukan beberapa hal untuk melakukan pelestarian lingkungan. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang dilakukan baik oleh individu maupun melalui organisasi di kampus. Beberapa karya mahasiswa ITB antara lain hadirnya perangkat lunak Butterfly Project yang memiliki kemampuan untuk menghitung pengeluaran emisi di skala kecil. Unit kegiatan mahasiswa yang saat ini fokus pada kegiatan lingkungan adalah U-Green, sedangkan untuk himpunan mahasiswa ada beberapa yang telah menjalankan program mengenai lingkungan hidup.
|
| Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 29 Agustus 2009 06:52 ) |