Selamat Datang di ClimateChange-Center
Seminar Pendidikan Lingkungan Hidup Jawa Barat PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh danial   
Kamis, 17 Desember 2009 11:56

 

Pada tanggal 20 November 2009, telah diadakan seminar pembukaan untuk Kegiatan Paperless Generation. Kegiatan Seminar terselenggara atas kerjasama antara Climate Change Center (C3) dan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLHD) Jawa Barat. Seminar diadakan di Aula BPLHD Jawa Barat.

Seminar ini juga merupakan bagian Capacity Building dan Pengembangan Tools Pengajaran Guru-guru Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) Jawa Barat yang dilakukan C3. PLH sendiri merupakan Mata Pelajaran masih memerlukan perhatian yang besar.

Sebagian besar dari Guru-guru PLH yang C3 temui di lapangan, mengeluhkan masih kurangnya kemampuan dan bahan ajar PLH. Harapannya, dengan adanya Paperless Generation, Kemampuan dan Bahan Ajar Guru PLH semakin lebih baik lagi. Dilain pihak, siswa dan Guru dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dalam menunjang PLH di sekolah-sekolah.

Berikut rekaman kegiatan Seminar

SAMBUTAN

Ketua C3, Danial

C3 concern mengenai perubahan iklim. Kami berharap ada tindakan bersama dari semua pihak mengenai lingkungan hidup. Provinsi Jawa Barat memiliki potensi dan tantangan dalam mengembangkan lingkungan hidup sebagai green province. Pendidikan sebagai sokoguru diharapkan dapat menyokong perubahan serentak dan menghasilkan generasi muda yang lebih peduli kepada lingkungan hidup. BPLHD yang berkolaborasi dengan C3 mengharapkan kegiatan ini dapat menghasilkan sinergi bersama dalam rangka membentuk paperless generation.

Kabid pengendalian pencemaran lingkungan. Lusia (an. Kepala BPLHD Dr. Setiawan)

Saat ini pemanasan global semakin memprihatinkan. Hal ini dapat menimbulkan efek negative seperti banjir hingga tenggelamnya pulau, pola cuaca yang ekstrim dan sulit diprediksi . Oleh karena itu, perlu upaya semua pihak untuk memperlambat laju perubahan iklim yang sudah tidak dapat dihindari lagi. Paperless generation merupakan generasi yang berhemat dan mengurangi konsumsi kertas. Diharapkan hal ini dapat mengurangi laju perubahan iklim.

MATERI

Moderator : Masalah lingkungann hidup bukanlah sekedar isu. Tapi merupakan tanggung jawab generasi sekarang kepada generasi yang akan datang. Jawa barat merupakan pelopor dalam memajukan pendidikan lingkungan hidup.

Pemateri 1. BPLHD. Ibu Ande

Profil lingkungan hidup Jawa arat :

Visi:  Green province. Target 2010;  40% kawasan lindung

Kendala : jangan sampai lingkungan hidup menghambat ekonomi, namun jangan juga dikorbankan.

Fakta di lapangan : Jabar provinsi terpadat di Indonesia. Daya dukung lingkungan melemah, padahal  faktor lingkungan mempengaruhi 70% aspek kesehatan. Tiap wilayah di Jabar punya kondisi khas masing-masing. Misalnya daerah karawang, konversi daerah pertanian sangat tinggi. Cekungan bandung/daerah kota: pencemaran tinggi dan ancaman krisi air. 

Bumi saat ini sedang 'sakit' karena pencemaran dan habis dieksploitasi . Perilaku masyarakat sehari-hari sangat beresiko merusak lingkungan dan kesehatan, misalnya buang hajat dan sampah di sungai. Masyarakat cenderung egois dan malas, "yang penting bukan dirumah saya". Contoh kasus bencana : TPA Lewi Gajah.

Ada UU No 3 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Bahkan, ada pasal pidananya. Misalnya minimal hukuman satu tahun penjara dan denda hingga milyaran rupiah. UU No 18 Tahun 2008 tentang sampah. Misalnya buang sampah sembarangan dihukum 3 bulan penjara dan denda 50 juta rupiah. Permasalahan lain : TPA terbatas. Saran : ajak murid jalan2 lihat sungai dan TPA. UU sampah juga mengharuskan pemilahan sampah; organik, anorganik dan daur ulang. Ada program 'tabungan sampah'. Di luar negeri, Indonesia ber'prestasi' dalam pencemaran. Contoh kecil prilaku masyarakat; membuang filter rokok dan banyak barang lain yang butuh waktu lama untuk terurai.

Kearifan lokal membantu menjaga lingkungan hidup,misal pamali (larangan). Saat ini kearifan lokal memudar.

Sumber polusi : alam dan aktivitas manusia. Dampak pencemaran udara: dari lokal bisa ke global, karena dibawah atmosfir yang sama. Perubahan iklim ditekankan pada efek rumah kaca. penyebab : kenaikan jumlah gas rumah kaca (yang paling dihindari nitrogen oksida). Efek : peningkatan suhu bumi yang irreversible.Data dan fakta global sangat 'mengerikan', misal es mencair yang irreversibel sehingga volume air laut naik. Setiap detik penurunan kualitas lingkungan hidup tinggi, misal 1.629 meter kubik gletser di greenland mencair.

Penggunaan bahan bakar minyak bumi; gas paling minim pencemaran . Cadangan minyak indonesia makin menipis dan saat ini sedang giat mencari lahan baru. Indonesia peringkat emisi 19 di dunia. Prediksi pemanasan global : 2 derajat suhu bumi naik, 1-2,8 M manusia kekurangan air. pH hujan bandung: 4 artinya hujan asam.

Pemanasan global tidak mungkin dihentikan tapi minimal diperlambat lajunya agar manusia sempat beradaptasi. dampak pemanasan global : gunung es mencair, suhu meningkat, pola cuaca ekstrim. Permukaan laut meningkat, penyebaran nyamuk naik ke dataran tinggi, penyakit2 bermunculan. Pencairan gunung es sangat mengkhawatirkan. negara empat musim sangat merasakan perubahan iklim. Pulau jawa sangat rawan bencana.

Komitmen internasional : memperlambat laju dan mengurangi dampak kerusakan lingkungan. implementasi; teknologi ramah lingkungan, penghemaatan dan pengurangan konsumsi energi dan sumber daya, pengelolaan sampah, penanaman pohon untuk menyerap CO2,dll.

Pemateri 2. Dinas pendidikan Jawa Barat, Dr Dadang Rahman.

Pemprov jabar sangat peduli mengenai lingkungan hidup. Teknologi informasi juga dilibatkan, misal melalui email dan web. selain untuk efisiensi, juga untuk mengurangi kertas. Gerakan ini harus dimulai bersana. kuncinya pada perubahan perilaku.

Sebenarnya program peduli lingkungan hidup ini sudah dimulai, tapi sayangnya tidak menyentuh perubahan perilaku. misalnya buang sampah sembarangan. Sebagai pendidik, tidak hanya menyampaikan nilai peduli lingkungan hidup melalui omongan. tapi melalui contoh dan tindakan.

Layanan proses pembelajaran harus berpusat pada siswa, berorientasi komnpetensi, dan bermutu. Target pendidikan lingkungan hidup : perubahan perilaku.

Kurikulum hanyalah benda mati, yang penting adalah tindakan nyata. otonomi sekolah harus diberdayakan untuk mendukung program peduli lingkungan hidup. Langkah awal : analisis dan assesment/penilaian. agar prilaku berubah, harus tahu dulu kondisi awalnya.

Paperless generation harus dimulai dari tindakan nyata. Guru sendiri harus mempratekkan sendiri gerakan mengurangi penggunaan kertas. Siswa dapat didorong untuk saling memantau perubahan prilaku lingkungan hidup mereka. Laporannya tidak perlu menggunakan kertas.

Intinya, guru harus mengadaptasi kurikulum dan mengintregasikannya kedalam rencana pembelajaran dan tindakan nyata.

 

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 17 Desember 2009 12:38 )
 
Student Corner: Teenage Voice About Climate Change PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh danial   
Kamis, 17 Desember 2009 06:21

Paperless Generation (PAGE)#2 merupakan bagian rangkaian West Java Youth Climate Friends yang diangkat oleh C3 dalam bentuk program kampanye penggunaan media online sebagai media informasi yang ramah lingkungan. Dengan latar belakang fenomena saat ini yang sedang berkembang, bahwa internet sudah cukup akrab di lingkungan para pelajar khususnya pelajar SMA/SMK namun dalam penggunaannya masih belum produktif. Untuk itu PAGE# 2 mengikuti jejak program sebelumnya kembali hadir dalam program kampanye  penggunaan internet yang kreatif dan produktif di kalangan pelajar di kota Bandung dan kota-kota besar lainnya di Jawa Barat, sebagai bentuk aksi sederhana namun nyata dalam menyikapi dampak buruk perubahan iklim yang tengah berlangsung.

 

 Dengan rangkaian kegiatan sebagai berikut:

A.   Roadshow dan wokshop, dengan rangkaian kegiatan:

1.    Pertemuan Guru PLH

Deskripsi

Kegiatan “Pertemuan Guru PLH” dimaksudkan sebagai ajang silaturahmi dalam rangka inisiasi kegiatan “PAGE #2” dengan tujuan utama untuk memperkenalkan guru-guru terhadap rangkaian kegiatan PAGE #2, membangun komitmen dan kebersediaan guru-guru untuk mendorong, mempublikasikan, dan menfasilitasi siswa untuk terlibat dalam rangkaian kegiatan PAGE #2, dan membangun jejaring pemangku kepentingan (stakeholders) dalam langkah proaktif terhadap perubahan iklim. Pendaftaran workshop sedianya dimulai sejak saat pertemuan guru-guru PLH sampai dengan H+1 minggu.

Kegiatan

Waktu pelaksanaan          : Jumat, 20 November 2009 pukul 10.00 WIB s.d. 12.00 WIB

Tempat                          : Kantor BPLHD Jawa Barat

Peserta                          : Guru-guru Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) se-Jawa Barat

 

 

2.    Workshop Mading Online

Deskripsi

Kegiatan “Workshop Mading Online” dimaksudkan sebagai lokakarya pemahaman, pembuatan, dan pengembangan blog sebagai wahana substitusi dari mading konvensional (yang menggunakan kertas). Workshop juga dimaksudkan sebagai peningkatan kemampuan siswa dalam pengembangan “Mading Online” sebagai upaya mendukung program edukasi terhadap perubahan iklim, reportase kegiatan lingkungan siswa, dan persiapan keikutsertaan siswa dalam lomba (Mading Online). Kegiatan difokuskan pada pemahaman dan aplikasi penggunaan teknologi internet (terutama blog) dalam penyebarluasan pengetahuan dan aksi terhadap perubahan iklim.

Kegiatan

Waktu pelaksanaan          : Rabu, 23 Desember 2009 pukul 08.00 WIB s.d. 17.00 WIB

Tempat                          : BEC Bandung

Peserta                          : Siswa se-Jawa Barat (± 60 orang sebagai perwakilan dari 30 sekolah)

 

B.    Lomba Mading Online, dengan rangkaian kegiatan:

Deskripsi

Kompetisi Mading Online antar sekolah diikuti oleh seluruh peserta workshop yang mewakili sekolah masing-masing. Kriteria penilaian yang digunakan meliputi: (1). Tema lingkungan yang diangkat; (2). Gaya penulisan; (3). Keartistikan mading; dan (4). Data pengunjung dan pengomentar, yang akan dijadikan penilaian dalam menentukan pemenang.

Jangka waktu penjurian                : 28 Desember 2009 – 28 Januari 2010

Kegiatan:

1.    Pembukaan Waktu Lomba (28 Desember 2009) – setelah pelaksanaan workshop.

2.    Pendampingan (28 Desember 2009 – 28 Januari 2010), dengan agenda: pemantauan perkembangan ‘Mading Online’ dan pendampingan praktik sebagai upaya peningkatan kemampuan peserta secara langsung

3.    Student Meeting (23 Januari 2010), dengan agenda: silaturahmi antar peserta dan fasilitator, serta presentasi mading online oleh peserta.

4.    Penjurian lomba, dengan jangka waktu 1 bulan dari tanggal 28 Desember 2009 – 28 Januari 2010.

 

C.    Talkshow, dengan rangkaian kegiatan:

Deskripsi

Talkshow merupakan acara puncak dari PAGE #2 (Paperless Generation Ke-2). Acara ini bertujuan untuk mempublikasikan hasil kegiatan lomba “Mading Online”, wahana temu pemangku kepentingan dalam langkah proaktif terhadap perubahan iklim, dan inspirasi bagi masyarakat umum.

Acara dikemas berupa segmen diskusi berformat talkshow dengan menghadirkan:  (1). Figur pelajar yang dapat menjadi inspirasi dalam aksi terhadap perubahan iklim (lingkungan); (2). Perwakilan peserta workshop dan lomba agar dapat berbagi mengenai esensi media online dalam aksi nyata sederhana pengurangan konsumsi kertas; (3). Perwakilan dari lembaga pemerintah dalam lingkungan hidup sebagai narasumber terhadap komitmen pemerintah dalam perubahan iklim; (4). Tokoh intelektual lingkungan hidup sebagai narasumber mengenai perubahan iklim dan langkah perbaikan sederhana yang masyarakat umum bisa lakukan; dan (5). Perwakilan insan blogger sebagai narasumber terkait blog dan perubahan iklim. Di akhir acara juga akan diumumkan pemenang lomba “Mading Online”. Acara talkshow dipandu oleh public figure seperti Dik Doank dengan lokasi strategis dapat menarik masyarakat umum untuk datang dan mengikuti talkshow.

Selanjutnya selama acara talkshow berlangsung juga disediakan stand pameran di sekitar lokasi yang berisi berbagai macam edukasi mengenai aksi nyata sederhana yang dapat dilakukan dalam penyikapan pemanasan global, khususnya pengurangan penggunaan kertas.

Kegiatan

Nama talkshow                : “Student Corner: Teenage Voice about Climate Change

Waktu pelaksanaan          : Minggu, 30 Januari 2010 pukul 08.00 WIB s.d. 15.00 WIB

Tempat                          : Parisj van Java, Bandung

Peserta                          : Guru PLH, pelajar/mahasiswa, dan masyarakat umum

 

Nama pameran                : “Paperless Generation Expo

Waktu pelaksanaan          : Minggu, 30 Januari 2010 pukul 09.45 WIB s.d. 15.00 WIB  

Tempat                         : Parisj van Java, Bandung

Peserta                          : Karya pelajar yang menginspirasi, badan pemerintah, komunitas blogger, Forum Hijau dan media partner lainnya.

 

 

Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 17 Desember 2009 09:10 )
 
Eco Hotel in Indonesia PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh danial   
Jumat, 16 Oktober 2009 08:32

The continuous of development became one of the bases that was firm in discussing the development of tourism. The development of this kind headed to the protection and the improvement of the environment, the fulfilment of the requirement for the foundation of humankind, the introduction to the inter-generational equality, and improved the quality of the life of the crowd (Inskeep, 1991). The most comprehensive international statement that was taken as the aim of modern tourism of being the Manila Declaration by World Tourism Organization. This international statement was supported by The Joint Declaration of the World Tourism Organization, and United Nations Environmental Program (UNEP), that ratified the co-ordination between the sector from tourism and the environment.

The statement together that it was mentioned above sounded one of them :

“The protection, the improvement, and the increase of various components from the human environment were several matters around various fundamental conditions for the development of harmonious tourism”

The other statement that was not inferior important that is the Hague declaration about tourism, that was stated by World Tourism Organization :

“The original nature environment, the culture, and his humankind were the fundamental prerequisite for the development of tourism. Apart from than that, the management that was rational could from tourism give the contribution that meant so much for the protection and the development of the physical environment..”

One more of effort that was carried out by the government from all the countries that is the Agenda 21, that was a comprehensive program from continuous development efforts in the Meeting of the Earth High-level that was held by the United Nations in Rio de Janeiro, of Brazil in June 1992. This meeting produced ten principles of the subject about sustainable development, that afterwards was translated into ten areas of the priority for the tour company and the trip. The ten areas were :

1.    The reduce of waste, re - use and recycle.

2.    Efficiency, conservation and management Energy.

3.    Clean water management.

4.    Liquid waste management.

5.    The toxic material / dangerous.

6.    Transportation.

7.    Planning and the order management for the land.

8.    The staff partisipation, the consumer, and the community of the environment.

9.    Sustainability design.

10. The partnership for the continuous development.

The main matter other that provided a basis for the Tasty Hotel program was the aim of Millenium Delopment Goals (MDGs) that is guaranteeing the continuity of the environment. With the existence of the Eco Hotel Program, was expected to be able to help the Government in bringing about the aim MDGs especially in the environmental field.

 The following base from the Eco Hotel  Program West Java was Misi Pembangunan Nasioanl Jangka Panjang Plan (RPJP) West Java 2005-2025, that is:

1.      Point 2 :  Brought to the competitive nation.

This point aim and asked to head to the competitive Nation. Hopefully, because of Eco Hotel Program, the hotes in West Java help created the Internatioanl competitive Hotel.  The competitive International hotel in turn consisted of various stakeholder that was competitive Internation too(for example : human resource and hotel’s infrastuktur)

2.      Pont 6 : Brought about Indonesua beautiful and lasting country.

Hoped the Eco Hotel Program brought about West Java and Indonesia that were beautiful and lasting. Because of the Eco Hotel Program that was drafted and caried out to bring about the condition for the “greener” , for example in the waste management and the use of energy.

Apart from RJRP West Java, Rencana Pembangunan Jangka Menengah  (RPJM) West Java 2008 - 2013 also stressed the problem of Tourism and the Environment, among them:

                   Tourism Field

“The Tourism field. The development of tourism was aimed at the increase in the superiority of the attraction of the tour through the development of the unique tourism product,  Traditional and reflected the identity of the West Javanese community that was rooted in nature and the culture, the increase in the achievement of the object and the attraction of the tour that was competitive as well as the utilisation of the potential for nature resources continuously and have a perception the environment.  In this stage was carried out also the increase in the quality of means and the infrastructure of tourism with the international standard. “

Nature resources and the Environment

“…Increase efforts in nature resources and the effective environment, efficient, and gave added value was aimed through the integration of the aspect of the environment in the sectoral activity, environmental education and constructive sinergrity interregional as well as the interests in order to begin efforts to bring about West Java as Eco-province.”

Hoped, the Eco Hotel Program participated in creating and carrying out the aim of RJPM West Java 2008 - 2013 that was going. Especially in the tourism field and the environment.
Terakhir Diperbaharui ( Kamis, 17 Desember 2009 09:47 )
 
Eco Hotel Rating - Langkah Climate Change Center menyikapi Perubahan Iklim PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh danial   
Sabtu, 29 Agustus 2009 05:45

Pariwisata dan Perubahan Iklim

Pembangunan yang berkelanjutan telah menjadi salah satu landasan yang kokoh dalam membicarakan pengembangan kepariwisataan. Pembangunan semacam ini mengarah kepada perlindungan dan perbaikan lingkungan, pemenuhan kebutuhan dasar manusia, pengenalan persamaan antar generasi, dan memperbaiki kualitas hidup orang banyak (Inskeep, 1991).

Kaitan antara pariwisata dan lingkungan sesungguhnya secara internasional telah disadari sejak tahun 1980  seperti yang dinyatakan dalam  Deklarasi Manila tentang Pariwisata Dunia oleh badan Pariwisata Dunia (World Tourism Organization/WTO) di tahun 1980. Pernyataan bersama WTO (kini UNWTO)  dan United Nations Environmental Program (UNEP) salah satunya menyatakan bahwa: 

 “Perlindungan, perbaikan, dan peningkatan berbagai komponen dari lingkungan manusia adalah beberapa hal diantara berbagai persyaratan fundamental bagi pembangunan kepariwisataan yang harmonis.”

Kesadaran ini diperkuat dengan Deklarasi The Hague tentang Kepariwisataan yang disepakati bersama oleh Inter Parliamentary Union dan  UNWTO  pada tahun 1989. Dalam deklarasi tersebut diharapkan seluruh pihak yang bertanggung jawab atas kegiatan pariwisata memperhatikan prinsip-prinsip dalam deklarasi tersebut yang salah satunya adalah:

“Lingkungan alam yang asli, budaya dan manusia adalah prasyarat fundamental bagi pembangunan kepariwisataan. Selain itu, pengelolaan yang rasional atas  kepariwisataan dapat memberikan sumbangan yang sangat berarti bagi perlindungan dan pengembangan lingkungan fisik dan warisan budaya serta memperbaiki kualitas hidup”

Paradigma dan gerakan pembangunan berkelanjutan makin kokoh  dengan adanya  Deklarasi Rio tentang  Lingkungan dan Pembangunan atau lebih sering disebut sebagai Agenda 21 Dunia,  sebuah program tindak yang menyeluruh atas usaha pembangunan berkelanjutan. Deklarasi yang disepakati 182 negara dalam Pertemuan Tingkat Tinggi Bumi diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa di Rio de Janeiro, Brazil pada bulan Juni 1992.

Dukungan sektor pariwisata terhadap pembangunan berkelanjutan pun makin serius dengan disusunnya Agenda 21 untuk Industri Perjalanan dan Pariwisata oleh World Travel and Tourism Council (WTTC),  UNWTO  dan Earth Council pada tahun 1996. Dari berbagai  bidang/area perhatian yang menjadi prioritas program tindak dalam Agenda 21 Dunia,  ditetapkan sepuluh area prioritas bagi usaha dan industri pariwisata untuk melakukan tindakan nyata guna mendukung pembangunan berkelanjutan. Kesepuluh area tersebut adalah:

·         Pengurangan sampah, penggunaan ulang dan daur ulang.

·         Efisiensi, konservasi, dan pengelolaan energi.

·         Pengelolaan sumber air bersih.

·         Pengelolaan limbah cair.

·         Bahan beracun/berbahaya.

·         Transportasi.

·         Perencanaan dan pengelolaan guna lahan.

·         Partisipasi staf, konsumen, dan masyarakat dalam isu lingkungan.

·         Desain yang mendukung  keberlanjutan 

·         Kemitraan untuk pembangunan yang berkelanjutan.

Pemerintah Indonesia dan Climate Change Center, Sumbangsih bagi Lingkungan, Pariwisata Indonesia serta Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development)

Dalam tatanan nasional, Pemerintah Indonesia juga menindaklanjuti  Agenda 21 ke dalam Agenda 21 Nasional dan Sektoral, termasuk Agenda 21 Sektor Pariwisata, bahkan lokal. Dalam Agenda 21 Sektor Pariwisata yang disusun pada tahun 2002 salah satunya menyarankan program tindak “Pengembangan Industri Pariwisata secara Berkelanjutan”  yang pada dasarnya mengembangkan pengelolaan usaha, sumber daya dan limbah secara berkelanjutan.

Sementara masing-masing usaha pariwisata, pada umumnya, dan sektor perhotelan pada, khususnya, di Indonesia berupaya memperbaiki operasional usahanya menjadi usaha yang lebih ramah lingkungan secara individual,  pada tahun 2000, Casagrande Bali Chapter  bekerja sama dengan Bali Fokus melakukan audit terstruktur terhadap 32 hotel anggotanya. Hasil audit, yang menunjukkan tingkat  ‘keramahlingkungan’ hotel  (eco-hotel rating), selanjutnya menjadi dasar penyusunan rekomendasi tindakan bagi hotel-hotel tersebut untuk memperbaiki pengelolaan hotelnya secara lebih berkelanjutan. 

Inisiatif Eco-hotel rating merupakan bentuk upaya usaha Climate Change Center dan Dunia Pariwisata mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Upaya ini menjadi kian penting, karena dunia tengah menghadapi persoalan lingkungan yang besar dan serius yaitu perubahan iklim dunia akibat akumulasi berbagai dampak proses alami dan kegiatan manusia selama ratusan tahun.

Persoalan perubahan iklim telah menjadi perhatian PBB dan berbagai lembaga dunia satu dekade terakhir ini. Berbagai sektor berupaya untuk memitigiasi dampak perubahan iklim. Demikian pula dengan sektor Pariwisata dunia dalam Konferensi Perubahan Iklim  dan Pariwisata I di  Djerba, Tunisia pada tahun 2003.

Konferensi Djerba dilanjutkan dengan  Konferensi Internasional ke-2 tentang Perubahan Iklim dan Pariwisata yang diselenggarakan oleh UNWTO, UNEP, World Meteorological Organization (WMO), World Economic Forum (WEF) di Davos, pada tahun 2007. Dalam konferensi tersebut dideklarasaikan Deklarasi Davos yang meminta Destinasi dan Industri Pariwisata untuk antara lain:

-          Memimpin dalam menerapkan tindakan kongkrit dalam rangka memitigasi perubahan iklim di sepanjang rantai nilai pariwisata dan mengurangi resiko bagi pelaku perjalanan, oprator dan infrastruktur akibat varasi dan pergeseran iklim.

-          Berupaya melestarikan keanekaragamn hayati, ekosistem alami dan lansekap dengan cara memperkuat daya tahan terhadap perubahan iklim dan memastikan penggunaan berkelanjutan jangka panjang  sumber daya berbasis lingkungan bagi pariwisata...

-          Mencoba meningkatkan lingkungan yang bebas karbon dengan cara mengurangi polusi melalui desain, operasi dan mekanisme pasar yagn responsif.

-           Meningkatkan kesadaran di antara konsumen dan staf tentang perubahan iklim dan melibatkan mereka dalam proses menanggapi perubahan iklim. 

Resolusi Majelis Umum UNWTO tentang Pariwisata dan Perubahan Iklim, selanjutnya di tahun yang sama, menyadari bahwa  perubahan iklim telah menyebabkan dampak serius di beberapa destinasi pariwisata dan kegiatan tertentu dalam pariwisata. Dan walaupun dalam porsi kecil, disadari bahwa pariwisata tetap berkontribusi pada total emisi gas rumah kaca dan jika tidak dilakukan tindakan perbaikan pemanasan global akan terus meningkat dengan laju yang membahayakan. Karenanya, Majelis Umum UNWTO menyadari kebutuhan mendesak untuk sektor pariwisata untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim  dan memitigasi emisi gas rumah kaca serta mengajak semua pihak di sektor pariwisata, media dan pelaku lain untuk menghadapi tantangan yang terbesar dunia saat ini, tanpa  mengabaikan prioritas lain yang diemban pariwisata yaitu: berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium 2015, yang salah satunya  adalah memastikan keberlanjutan lingkungan yang dilakukan dengan cara  mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dalam berbagai kebijakan dan program di tiap negara dan memulihkan  sumber daya lingkungan. 

Karenanya pada Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim, yang lebih dikenal dengan COP 13, di Bali pada tahun 2007, Sekjen UNWTO menyampaikan pesan dan tekad dari masyarakat pariwisata dunia untuk mendukung semua upaya yang dipimpin PBB dalam rangka  menangani perubahan iklim dan siap  menjalankan tanggung jawabnya.  Karenanya,  perubahan paradigma usaha pariwisata ke arah yang berkelanjutan, termasuk penerapan eco-hotel rating ini menjadi makin penting dan mendesak. 

Jawa Barat sebagai Provinsi yang Berwawasan Lingkungan (Eco-Province)

Penerapan eco-hotel rating di Jawa Barat ini seiring dan mendukung  Misi Recana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Provinsi Jawa Barat, khususnya  dalam menjalankan misi pembangunan ekonomi dan lingkungan yaitu untuk:

·         meningkatkan perekonomian Jawa Barat yang berdaya saing dan berbasis potensi daerah melalui pembangunan industri yang berkelanjutan, dengan memperhatikan aspek lingkungan, pengembangan industri ramah lingkungan serta pengembangan industri berbahan baku yang terbarukan; dan

·         mewujudkan Lingkungan Hidup yang Asri dan Lestari melalui, antara lain, pengelolaan Sumber daya Alam dan pengelolaan limbah. 

Selanjutnya, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)-nya pada periode 2008-2013 pembangunan bidang kepariwisataan Jawa Barat diprioritaskan pada:  

“...serta pemanfaatan potensi sumber daya alam secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Pada tahap ini dilakukan juga peningkatan kualitas sarana dan prasarana pariwisata dengan standar internasional.”

Sementara prioritas pembangunan di bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup adalah:

“... Upaya peningkatan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang efektif, efisien, dan memberikan nilai tambah diarahkan melalui integrasi aspek lingkungan dalam kegiatan sektoral, pendidikan lingkungan dan membangun sinergitas antar daerah serta pemangku kepentingan dalam rangka memulai upaya mewujudkan Jawa Barat sebagai Eco-province.”

 

Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 29 Agustus 2009 06:42 )
 
Peran Strategis Mahasiswa Indonesia Menyikapi Perubahan Iklim PDF Cetak E-mail
Ditulis oleh danial   
Rabu, 18 Februari 2009 13:47

Perubahan Iklim merupakan global saat ini. Indonesia pun tidak terlepas dari pengaruh perubahan iklim tersebut. Perubahan Iklim disebabkan dan dipengaruhi oleh banyak hal. Diantaranya adalah Gas Rumah Kaca. Jenis apa saja yang di golongkan sebagai Gas Rumah Kaca (GRK). Ada 6 jenis gas rumah kaca adalah sebagai berikut: Karbondioksida (CO2) yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil ( minyak bumi, batu bara dan gas alam); Metana (CH4) berasal dari areal persawahan, pelapukan kayu, timbunan sampah, proses industri dan ekploitasi bahan bakar fosil; Nitrous Oksida (N2O) yang berasal dari kegiatan petani / pemupukan, transportasi dan proses industri;  Hidroflourakarbon (HFCs)berasal dari sistem pendingin, aerosol, foam, pelarut dan pemadam kebakaran; Perflourokarbon (PFCs) berasal dari proses industri; Sulfurheksaflourida (SF6) berasal dari proses industri. 

Masalah timbul ketika aktivitas manusia menyebabkan peningkatan konsentrasi gas rumah kaca secara segnifikan, sehingga menyebabkan akumulasi panas di atmosfer yang mempengarui sistem iklim global, yang menyebabkan naiknya temperatur rata-rata bumi. Dikenal sebagai pemanasan global. Pemanasan global pada akhirnya menyebabkan terjadinya perubahan iklim, atau tepatnya perubahan beberapa variabel iklim suhu udara dan curah hujan.  

Perubahan Iklim ini telah mengakibatkan berbagai dampak, diantaranya: Peningkatan Permukaan Air Laut, Krisis Pangan, Krisis Air Bersih, Meluasnya Berbagai Penyakit, dan lain-lain.  

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meyikapi Perubahan Iklim. Salahsatu diantaranya adalah Adaptasi Perubahan Iklim. Adaptasi Perubahan Iklim adalah upaya mempersiapkan diri dan lingkungan sekitar terhadap perubahan akibat perubahan iklim, baik yang telah terjadi maupun mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi.

Dalam adaptasi terhadap perubahan iklim, mahasiswa merupakan salahsatu komponen masyarakat yang potensial. Mahasiswa Indonesia harus banyak terlibat dan dilibatkan dalam penyikapan terhadap perubahan iklim. Titik pentingnya adalah mahasiswa yang mampu untuk menjadi motor dalam penyikapan terhadap perubahan iklim dengan segala potensi dan kemampuan yang mereka miliki. 

Climate Change Center, sebagai lembaga yang konsen terhadap Perubahan Iklim, memandang mahasiswa sebagai komponen penting dari bangsa dan negara Indonesia. Dengan melihat potensi yang mahasiswa punyai. Climate Change Center mencoba bekerjasama dengan mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB). 

Climate Change Center dan Ganesha Hijau (mahasiswa ITB) meluncurkan kegiatan Garbage Fun Day. Yaitu sebuah kegiatan edukasi lingkungan dalam wujud talkshow lingkungan yang berbobot dengan topik yang akan membuka wawasan isu-isu lingkungan saat ini dan bagaimana sikap mahasiswa ITB yang tepat dalam menyikapinya. Tujuan kegiatan “Garbage Fun Day” adalah membuka wawasan lingkungan dan pemikiran mahasiswa ITB terhadap peran strategis mahasiswa Indonesia dalam menyikapi perubahan iklim. Esensi kegiatan edukasi lingkungan “Garbage Fun Day” diharapkan tercapai maksimal dengan konsep menyenangkan, menarik dan santai. Harapan dari kegiatan “Garbage Fun Day” adalah semakin terbentuknya komunitas yang mulai berfikir kritis dalam menyikapi isu-isu lingkungan yang aktual. 

Kegiatan Garbage Fun Day berupa Talk show yang diadakan pada tanggal 14 Februari 2009 di Institut Teknologi Bandung, Bandung, Jawa Barat. Talk show dimulai dengan penjelasan dari Bu Retno Gumilang Dewi akan pentingnya isu global warming untuk kita perdulikan karena dampaknya besar bagi kelangsungan hidup manusia, seperti kenaikan permukaan air laut yang akan menenggelamkan pulau-pulau kecil. Bu Retno juga mengingatkan pentingnya menghemat penggunaan listrik karena hal itu merupakan bentuk partisipasi dalam upaya pencegahan global warming.Bu Retno secara umum memberikan paparan umum yang luas mengenai isu-isu lingkungan secara global. 

M. Bijaksana Junerosano sebagai pembicara dalam talk show ini membagi pengalamannya sebagai pendiri U-Green ITB dan juga Greeneration Indonesia. Ia juga merupakan duta lingkungan Indonesia dalam BYEE 2005 lalu. Ia mengkritik pihak-pihak yang berwajib dalam masalah lingkungan, khususnya sampah, yang hanya mengeluarkan aturan tanpa ada tindakan konkret. Contohnya saja di Bandung. Sebenarnya sudah ada undang-undang yang mengatur tentang denda bagi orang yang membuang sampah sembarangan, tetapi sampai sekarang tidak ada pelaksanaan dari undang-undang tersebut. Selain itu, ia pun meminta mahasiswa untuk sadar lingkungan, khususnya mahasiswa ITB.

Selama ini, mahasiswa ITB belum dianggap sadar lingkungan. Hal ini terbukti dari sikap mahasiswa yang tidak memilah sampah antara organik dan anorganik ketika membuang sampah padahal tempatnya sudah tersedia. Selain itu, ia mengungkapkan bahwa menjadi aktivis lingkungan bukan berarti tidak dapat menghasilkan keuntungan. Terbukti dengan kreativitas dan kemauan, ia dapat mengkomersilkan produk unik mendukung antiplastic bag yang bernama “Bagoes” dengan konsep ergonomis sehingga dapat meraup keuntungan. Kak Sano memberikan teladan yang banyak bagi peserta bagaimana peran mahasiswa sebagai pemuda dalam menghadapi isu-isu lingkungan dan memberi semangat kita sebagai pemuda untuk terus maju memperjuangkan lingkungan kita menjadi lebih baik lagi di suatu saat nanti. 

Setelah talk show acara dilanjutkan dengan kuis untuk memancing minat peserta dalam berpendapat dan berpikir kreatif mengenai masalah lingkungan. Acara pun dilanjutkan dengan materi dari Kak Rizal (dari Nymphaea ITB) yang membahas tentang pembuatan pupuk cair serta pereduksian sampah. Ia pun memperlihatkan sebuah konsep taman bermain yang juga berfungsi sebagai tempat pengolahan sampah yang dapat mengatasi masalah sampah di perkotaan, khususnya Bandung.   

Memasusuki acara selanjutnya yaitu permainan dan diskusi lingkar lingkungan, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Mereka dimobilisasi keluar ruangan dengan tertib. Permainan yang dilakukan berupa memilah-milah sampah berdasarkan produk yang bisa dihasilkan kembali dari sampah itu.  Esensinya, peserta mengerti tentang pemilahan sampah dan mengetahui hasil dari daur ulang sampah itu. Tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan kesadaran peserta untuk turut mendukung program daur ulang yang ada di lingkungan masing-masing. Setelah permainan selesai, dilaksanakan diskusi. Dalam diskusi, satu kelompok terdiri atas peserta yang berjumlah 8-10 orang dan dua fasilitator. Tema yang dibawakan pada diskusi berupa masalah-masalah lingkungan, baik global maupun lokal. Selain itu, melalui diskusi ini peserta diajak untuk mengambil sikap yang sesuai menghadapi problema lingkungan yang ada. Diskusi masing-masing kelompok berjalan lancar dan antusiasme peserta cukup tinggi.

 

Terakhir Diperbaharui ( Sabtu, 14 Maret 2009 06:53 )
 
Artikel Lain...
« MulaiSebelumnya123BerikutnyaAkhir »

Halaman 1 dari 3

Who's Online

Kami memiliki 2 Tamu online